Senin, 31 Oktober 2011

Membangun Graf Dalam Sirkuit Hamilton

Graf pada umumnya jurusan matematika mempelajarinya, dimana graf itu sendiri sangat diperlukan dalam lingkungan hidup kita sehari-hari, minimum pada saat kita berpergia dimana saja, dimana disana juga kita dapat ketemu yang dinamakan jarak tempuh dan waktu tempuh serta alternatif yang harus kita tempuh ke tempat yang kita inginkan.
disini dapat membantu anda dalam memahami cara-cara membangun graf dalam hidup ini melalui teorema Sirkuit Hamilton.
Anda mau cari tau lanjutkan saja membaca blog ini dengan ketelitian anda dapat men-download bahan yang anda iningnkan di blog ini.
Disini ada sebuah file yang membuat anda bisa menyelesaikan masalah tugas anda
mau download jangan ragu pasit di berikan dengan geratis lho.......
 hanya saja anda yakin bisa dapat bahannya silakan aja ikuti perintah dari download-nya,
dapat anda KLIK ==> Disini. ya selamat mendownload semoga anda bisa.

Kamis, 27 Oktober 2011

LINGKUNGAN PENDIDIKAN

LINGKUNGAN PENDIDIKAN

A. Pengartian Lingkungan

Lingkungan (emvirement) yaitu ”meliputi semua kondisi dalam dunia ini yang dengan cara tertentu mempengeruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan atau life processes kita” (Ngalis Purwanto, 1986:77)

“Wasty soemanto (1984:80) juga mengemukakan bahwa”. Lingkungan yaitu mencakup segala material dan stimuli didalam dan diluar diri individu, baik yang bersifat fisiologis, prikologis, maupun social kultural.

Dari kedua pendapat para ahli diatas menggambarkan pengertian lingkungan yang sekaligus menjelaskan jenis-jenisnya. Lingkungan adalah segala sesuatu yang mempengaruhiindividu. Suatu yang mempengaruhi itu mungkin berasal dari dalam diri individu (internal environment), dan mungkin pula berasal dari luar diri individu environment. Individu dalam hal ini dapat berbentuk orang atau lembaga. Lingkungan bagi seseorang individu adalah segala sesuatu yang berasal dari dalam dirinya (fisik dan psikis) dan suatu yang berada diluar dirinya seperti alam fisika (non-manusia) dan manusia. Lingkungan dalam (internal) bagi sekolah sebagi suatu lembaga adalah segala sesuatu yang berada dalam kampus (kompleks) sekolah tersebut, sedangkan lingkungan luar dari sekolah sebagai suatu lembaga yaitu keluarga dan masyarakat sekitar sekolah.

B. Fungsi Lingkungan

Fungsi suatu lingkungan tergantung pada jenis lingkungan tersebut. Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan yang berfungsi antara lain sebagi berikut ;

1) Pusat pendidikan formal

2) Pusat kebudayaan

3) Lembaga social

Ketiga fungsi-fungsi diatas merupakan fungsi kedalam (internal), sedangkan fungsi keluar (external) antara lain ikut berpasrtisipasi membantu keluarga dan masyarakat dalam hal penyelenggaraan pendidikan informal dan non-formal.

Keluarga sebagai lingkungan pendidikan yang berfungsi (kedalam) antara lain memberikan dasar-dasar pendidikan pada anggota keluarga (terutama anak-anak). Dasar-dasar pendidikan tersebut antara lain pendidikan agama, moral etika dan pengetahuan dasar baik kognitif, efektif maupun psikomotor dasar fungsi keluar antara lain ikut membantu sekolah dan masyarakat dalam hal penyelenggaraan pendidikan non-formal.

C. Jenis-Jenis Lingkungan

Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan didalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat karena itu merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Maka jenis-jenis lingkungan itu akan diuraikan sebagai berikut ;

1. Keluarga

Keluarga adalah merupakan kolpmpok primer yang terdiri dari jumlah kecil orang yang mempunyai hubungan pertalian darah. Keluarga itu dapat berbentuk nucleus family ataupun keluarga yang diperluas yaitu terdiri dari ayah, ibu, anak, paman/tante, kakek/nenek, ipar/adik, pembantu dan lain-lain, bentuk seperti ini kebanyakan ditemui dalam struktur masyarakat Indonesia.

Adapun beberapa alasan yang logis dalam pembentukan prilaku dan kepribadian anak sbb;

- Keluarga merupakan pihak yang paling awal membrikan banyak perlakuan kapada anak,

- Sebagian besar anak berada di lingkungan keluarga,

- Karakteristik hubungan orang tua-anak berbeda dari hubungan anak dengan pihak-pihak lainnya (guru, teman dan sebagainya),

- Intraksi kehidupan orang tua-anak di rumah bersifat asli, seadanya dan tidak dibuat-buat.

Dari berbagai alas an yang dikemukakan itu menyebabkan fungsi dan perana keluarga menjadi penting dalam pencapaian tujuan pendidikan yakni yakni membangun manusia Indonesia seutuhnya. Karena itu undang-undang system pendidikan Nasiaonal no.2 Tahun 1989 menyetakan secara jelas dalam pasal 10 ayat 4, bahwa keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang memeberikan keyakinan agama, nilai-nilai moral dan keterampilan kepada anak.

2. Lingkungan Sekolah

Sekolah adalah merupakan suatu hal yang tidak bias dipungkiri lagi karena kamajuan zaman, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, keluarga tidak mungkin lagi memenuhi seluruh kebutuhan dan aspirasi generasi muda akan pendidikan.

Jalur pendidikan sekolah adalah merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah melalui kegiatan belajar-mengajar dengan organisasi yang tersusun rapi, terencana, berjenjeng dan berkesinambungan.

3. Lingkungan Masyarakat

Masyarakat adalah salah satu lingkungan pendidikan yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi seseorang. Kaitan antara masyarakat dan pendidikan dapat ditinjau dari beberapa segi yakni;

- Masyarakat adalah sebagai penyelenggaran pendidikan, baik yang dilembagakan maupun yang tidak dilembagakan

- Lembaga-lembaga kemasyarakatan dan kolompok sosial di masyarakat, baik langsung maupuntak langsung ikut mempunyai peran dan fungsi edukatif.

- Dalam masyarakat tersedia barbagai sumber belajar baik yang dirancang maupun dimanfaatkan.

Dari ketiga kaitan masyarakat dan pendidikan tersebut dapat dilihat peran yang telah disumbangkan dalam rangka tujuan pendidikan Nasional yaitu berupa ikut membantu menyelenggarakan pendidikan, membentu pengadaan tenaga, biaya, prasarana dan sarana, menyediakan lapangan kerja dan membantu mengembangkan profesi baik langsung maupun tidak. Makan secara kongkrit peran dan fungsi pendidikan kemasyarakatan dapat dikemukakan sebagai berikut;

- Memberikan kemampuan profesianal untuk mengembangkan karir melalui kursus penyelenggaran, penataran, lokakarya, seminar, konperensi ilmiah dan sebagainya.

- Memberikan kemampuan teknis akademik dalam suatu system pendidikan nasiaonal seperti sekolah terbuka, kursus tertulis, pendidikan melalui radio dan televisi, dll.

- Ikut serta mengembangkan kemampuan kehidupan beragama melalui pesantren, pengajian pendidikan agama di sarau, biara, sekolah minggu dan sebagainya.

- Menggambarkan kemampuan kehidupan sosial budaya melalui bengkel seni, teater, olah raga, seni bela diri serta lembega pendidkan sritual dan sebaginya.

- Mengembangkan keahlian dan keterampilan melalui system magang untuk jadi ahli bangunan, muntir dan sebagainya.

D. Pengaruh Timbal Balik Antara Ketiga Lingkungan Pendidikan Terhadap Perkembangan Peserta Didik

Tumbuh kembangnya anak pada umumnya dipengaruhi oleh bebagai factor yakni hereditas, lingkungan, proses perkembangan dan anugrah. Dalam hal itu kegiata pendidikan dapat dibentuk berupa membimbing, mengajarkan, melatih dalam suasana belajar dan proses pembelanjaran. Dari ketiga bentuk kegiatan pendidikan diatas mewujudkan jati diri yang mantap, penguasa pengetahuan dan pemahiran keterampilan dilukiskan pada bagan berikut ini;

Bagan tersebut melukiskan bahwa setiap pusat pendidikan dapat berpeluang member kontribusi yang besar dalam ketiga kegiatan pendidikan yakni;

1. Pembimbingan dalam upaya pemantapan pribadi yang berbudaya.

2.Pengajaran dalam upaya penguasaan pengetahuan.

3.Pelatihan dalam upaya pemahiran keterampilan.

Sumber : Tim Dosen Pengantar Pendidikan FIP UNP. 2011. Bahan Ajar Pengantar Pendidikan. Padang: UNP.

HAKEKAT MANUSIA

HAKEKAT MANUSIA

A. Hakikat Manusia

1. Terminologi

a. Istilah (term), dan hakekat berasal dari bahasa arab, dengan kata dasarnya “haq” yang berarti kebenaran yang sesungguhnya (mendasar). Apabila seseorang menerangkan atau menjelaskan sesuatu benda atau sifat, maka yang dijelaskan itu adalah ciri-ciri atau sifat yang mendasar dari benda atau objek tersebut. Contoh, bila seorang manusia hanya mempunyai sebuah kaki, tetapi otaknya masih dapat berpikir normal, maka yang bersangkutan masih dianggapsebagai manusia yang layak, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu pemikiran atau akal sehat merupakan salah satu cirri “haq” (hakiki) manusia. Selanjutnya, kebenaran yang hakiki (haq) berasal dari Tuhan, dapat juga dari manusia asal tidak menentang aturan Tuhan. (Q.S. 2 : 147).

b. Istilah manusia juga berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata “man” yang artinya manusia, kebetulan sama juga artinya dengan yang ada dalam bahasa Inggris. Selanjutnya penggalan kata yang kedua yaitu “nasia” yang artinya pelupa. Jadi, istilah manusia berarti orang yang sering lupa tentang aturan atau peringatan-peringatan Tuhan.

Beberapa istilah lain, sering digunakan untuk manusia adalah :

1. Al insane, yang artinya manusia yang punya hati (insane kamil = nurani).

2. Al basyar, yang artinya manusia dalam bentuk lahiriahnya, yaitu makhluk yang merupakan makan dan minum, atau yang punya badan dan anggota sebagai layaknya manusia biasa.

3. Annas, yang artinya manusia secara umum dalam bahasa inggris disebut people.

4. Baniadam, artinya, bani = anak, Adam yaitu nabi Adam : maksudnya turunan atau anak cucu Nabi Adam

2. Berbagai Pandangan Tentang Hakikat Manusia

a. Pandangan Islam/Al Quran

Islam memandang hakikat manusia bukan berdasarkan pandangan pribadi atau individu orang yang memandang, akan tetapi pandangan didasarkan atas ayat-ayat Tuhan yang terkandung didalam Al Quran atau pandangan yang sampaian nabi Muhammad SAW. Atas dasar pandangan tersebut, hakikat manusia dalam Islam dapat dijelaskan sebagai berikut

a. Manusia sebagai Makhluk Ciptaan Tuhan/Allah

Tuhan sebagai Pencipta disebut Khalik dan selain dari Tuhan disebut Makhluk. Idealnya setiap makhluk harus patuh bertingkahlaku sesuai dengan aturan yang ditetapkan penciptanya. Tuhan mau mengangkat posisi atau derajat manusia, tetapi sebagai manusia ada yang ingkar disebabkan oleh kebodohan dan atau kesombongannya, karena tidak untuk memahami aturan Tuhan.

b. Hakikat Manusia sebagai Khalifah (“manager”)

Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang mau memposisikan manusia pada tempat yang paling tinggi dari segala makhluknya yaitu sebagai khalifah (manager) untuk mengatur ala mini berdasarkan aturan Tuhan. Ada baiknya terlebih dulu dijelaskan bahwa seluruh jagad raya (universal) diciptakan/dikendalikan langsung oleh Tuhan yang mempunyai nama/sifat yang maha baik yaitu asma ul husan. Misalnya Tuhan ada, Tuhan mendengar : keberadaan dan pendengaran Tuhan sifatnya tidak terbatas.

b. Sekilas Pandangan Ilmuan Barat tentang Hakikat Manusia

1. Pandangan Psiko Analitik dari S. Freud

Menurut Freud dalam Akta Mengajar V oleh Universitas Terbuka, secara hakiki keperibadian manusia terdiri dari tiga komponen yaitu : Id, ego, dan superego. Istilah lain juga dipakai yaitu Id = das es, dan ego = das ich, serta superego = dan uber ich. Selanjutnya dijelaskan bahwa Id meliputi berbagai jenis keinginan, dorongan, kehendak, dan instink manusia yang mendasari perkembangan individu, yang sering juga disebut libido seksual atau dorongan untuk mencapai kenikmatan hidup. Di dalam Id itu terdapat dua unsur yang paling utama yaitu seksual dan sifat agresif sebagai daya penggerak kejiwaan/tingkah laku manusia. Ego berfungsi untuk menjembatani antara Id dengan dunia luar dari individu itu.


Gambar 1. Analisis Unsur Kejiwaan Manusia menurut Freud

2. Pandangan Humanistik

Pandangan humanistik ini ditokohi oleh: Roger, Hansen, Adlet dan Martin Buber (AKTA Mengajar V Oleh Universitas Terbuka, 1985), Human artinya manusia, yaitu memahami secara hakiki keberadaan manusia, oleh manusia dan dari manusia berdasarkan ratio (pemikiran manusia). Pandangan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Dalam batas tertentu manusia punya otonomi untuk menentukan nasibnya.

b. Manusia bukan makhluk jahat atau baik, tetapi ia punya potensi untuk keduanya.

c. Manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab atas perbuatannya.

d. Manusia makhluk yang senantiasa akan menjadi 9on going process0, dan tak pernah sempurna.

3. Pandangan Behavioristik

Pandangan ini menjelaskan bahwa behavior (tingkah laku) manusia ditentukan oleh pengaruh lingkungan yang dialami individu yang bersangkutan.

Sumber : Tim Dosen Pengantar Pendidikan FIP UNP. 2011. Bahan Ajar Pengantar Pendidikan. Padang: UNP.

B. Dimensi-Dimensi Kemanusiaan

Jika diilustrasikan hakikat manusia, akan berbentuk suatu kesatuan yang dapat diumpamakan sebuah lingkaran seperti dibawah ini; berkelanjutan, harmonis (seimbang atau selaras dan serasi) menurut keredaan Tuhan Yang Maha Esa.

1. Dimensi Ketuhanan/ Keberagaman

2. Dimensi Keindividualan

3. Dimensi Kesosialan/ Kemasyarakatan

4. Dimensi Kesusilaan/ Moral


Gambar 1. Dimensi-dimensi Hakekat Manusia

1. Dimensi Keindividualan

Manusia sebagai makhluk individual dimaksudkan sebagai orang seorang yang utuh (individual; in-devide: tidak terbagi) yang terdiri dari kesatuan fisik dan psikis. Keberadaan manusia sebagai individual bersifat unik (unique), artinya berbeda antara satu dari yang lainnya. Setiap manusia sama mempunyai mata, telinga, kaki dan anggota tubuh lainnya, namun tidak ada yang sama persis bentuknya.

Kesadaran manusia akan dirinya sendiri merupakan perwujudan individualiats manusia. Makin manusia sadar akan dirinya, maka ia makin sadar terhadap lingkungannya karena manusia bagian dari lingkungannya. Antara hubungan dan antaraksi pribadi akan melahirkan konsekuensi hak dan kewajiban. Manusia sebagai individu memiliki hak sebagai sebagai kodrat alami atau sebagai anugrah Tuhan kepadanya.

2. Dimensi Kesosialan

Perwujudan manusia sebagai makhluk sosial terutama tampak dalam kenyataan bahwa tidak ada manusia yang mampu hidup sebagai manusia tanpa adanya bantuan dari orang lain. Realita ini menunjukkan bahwa manusia hidup dalam suasana interdependensi, dalam antar hubungan dan antaraksi. Hidup dalam antar hubungan, antaraksi dan interdependensi mengandung konsekuensi-konsekuensi sosial baik yang bersifat positif maupun negatif. Idealnya dalam kehidupan social itu tercipta suasana yang harmonis, rukun dan damai. Namun suasana sebaliknya dapat pula terjadi.

Kehidupan sosial adalah realita dimana individu tidak menonjolkan identitasnya, yang tampak kepermukaan sebagai wujud kebersamaan adalah identitas social yang pluralistis. Untuk mengembangkan potensi sosialitas pada diri peserta didik, idealnya pendidik menciptakan suasana pembelajaran yang memungkinkan terjalinnya interaksi dan interpendensi siswanya.

3. Dimensi Kesusilaan

Dalam pergaulan sosial manusia diikat oleh nilai-nilai tertentu yang menjadi patokan/ukuran bahwa suatu prilaku dianggap baik atau buruk. Persoalan kesusilaan berhubungan dengan nilai-nilai. Pada hakekatnya manusia diberikan kemampuan untuk melihat dan membandingkan antara sesuatu yang baik dan buruk dengan kata lain manusia memiliki kata hati, hati nurani untuk mengambil suatu keputusan. Kata hati yang tajam perlu diasah melalui pendidikan yang dilakukan sejak dini. Peserta didik harus memiliki pengetahuan tentang nilai-nilai dalam kehidupan dan menginternalisasikannya.

4. Dimensi Keberagaman

Manusia adalah makhluk yang religius, yang mengakui bahwa ada suatu zat yang menguasai alam beserta isinya, yang dipuja dan disembahnya yang disebut “Ilah” yaitu Tuhan. Manusia pada dasarnya tunduk dan patuh kepada Tuhan, kepada ajaran-ajaran yang disampaikan melalui kitab suciNya. Manusia memerlukan agama untuk keselamatan hidupnya kini dan untuk masa yang akan dating. Pendidikan agama menjadi tanggung jawab orang tua, semua guru di sekolah dan setiap orang untuk saling menasehati pada kebenaran terhadap semuanya.

C. Pengembangan Dimensi Kemanusiaan

Manusia secara individual terlahir ke muka bumi dengan segenap potensi untuk berkembang. Potensi tersebut tidak dengan sendirinya akan terwujud, artinya diperlukan upaya dari manusia lain untuk merangsang agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Agar potensi yang dimiliki manusia berkembang optimal maka manusia memerlukan orang lain dalam kehidupannya melalui proses sosialisasi. Individualitas manusia dapat diwujudkan melalui interaksi sosialnya dengan manusia yang ada di lingkungannya.

D. Sosok Manusia Indonesia Seutuhnya

Manusia Indonesia yang utuh merupakan tujuan pembangunan seperti digambarkan oleh GBHN bahwa pembangunan yang dilaksanakan adalah dalam rangka membangun manusia Indonesia yang seutuhnya, yang hidup secara serasi, selaras dan seimbang antara kehidupan jasmaniah dan rohaniah, individual dan kemasyarakatan serta kehidupan dunia dan akhirat. Oleh sebab itu, sikap hidup manusia Indonesia adalah:

1. Kepentingan pribadinya tetap diletakkan dalam kerangka kesadaran dan kewajiban sebagai makhluk sosial dalam kehidupan masyarakat.

2. Kewajiban terhadap masyarakat dirasakan lebih besar dari kepentingan pribadinya.

Raka Joni (1989:10) menyatakan peranan kunci dari pendidik dalam interaksi pendididkan adalah pengendalian yang pada dasarnya dilakukan dengan tiga cara, yaitu :

a. Menumbuhkan kemandirian dengan menyediakan kesempatan untuk memutuskan dan berbuat.

b. Menumbuhkan kemampuan mengambil keputusan dan berbuat dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.

c. Menyediakan sistem dukungan yang menawarkan kesempatan serta kemudahan belajar.

Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan (UUSPN) No. 20 Tahun 2003 merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional sebagai berikut:

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokrasi serta bertanggung jawab”

Sumber : Tim Dosen Pengantar Pendidikan FIP UNP. 2011. Bahan Ajar Pengantar Pendidikan. Padang: UNP